>>> JUAL RUNNING TEXT LED MURAH <<< UNTUK TEMPAT IBADAH, PERKANTORAN, PERTOKOAN atau USAHA LAINNYA >>> Cack Sye 081233360393

Sabtu, 30 Januari 2010

¤ Menuju Sebuah Pemahaman Besar ¤

Belajar Untuk Tidak Mempelajari…
http://margaluyu151-gresik.blogspot.com/2010/01/belajar-untuk-tidak-mempelajari.html

¤ Menuju Sebuah Pemahaman Besar…

Pemahaman ini adalah sebuah perjalanan keterbukaan dalam proses belajar untuk tidak mempelajari. Ia ada, muncul dan kita sadari pertama kali dengan sebuah ketiba-tibaan. Hal ini terjadi terutama ketika keterbukaan kita mengalami sebuah dentuman besar di alam bawah sadar, sehingga menimbulkan sebuah loncatan daya mental intuitif, yang dengan sendirinya membersihkan persepsi kita terhadap dunia manusia yang sedang kita tinggal sekarang.

Dunia manusia atau yang lebih nyata lagi disebut lingkungan konkret, pada awalnya sudah terdapat suatu daya penggerak yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Tapi ketika kesenjangan terjadi, daya-daya penggerak tersebut mengalami benturan-benturan yang semakin lama semakin kompleks. Sehingga manusia berusaha meredakan kompleksitas tersebut dengan menciptakan daya penggerak yang baru. Dan ini memang berhasil. Tetapi hal yang kompleks tersebut lama-kelamaan terulang kembali dan diselesaikan dengan penggerak ide yang lain lagi. Hal ini selalu terulang-ulang, sehingga terjadi tumpang tindih ide-ide manusia yang sudah tidak diketahui lagi mana yang benar dan mana yang salah. Di sinilah manusia yang ada di dalamnya terkuasai oleh pikirannya sendiri dan tidak tahu lagi jalan keluar terbaik. Tapi dengan keterbukaan kita, semua hal itu bukanlah sebuah jalan buntu. Kejelasan tampil dalam pemahaman kita, dimana semakin lama kita tinggal di dalam suatu lingkungan konkret manusia, semakin pula kita memahami sisi gelap yang menggerakkan segala sesuatu di belakang lingkungan konkret tersebut.

Kita tiba-tiba akan tersentak dan menyadari bahwa ternyata selama ini kita telah hidup di dalam air keruh bersama dengan topeng-topeng penggerak yang diciptakan manusia. Ide, teori, dan aturan, itulah sejumlah nama yang diberikan oleh hasil dari keagungan pikiran kita. Ia-lah yang selama ini mengisi dan menyamarkan diri kita semua menjadi sebuah diri yang disebut subjek ataupun objek. Ia juga yang sebenarnya membuat diri kita menjadi buta terhadap segala sesuatu yang berada di sekitar kita.

Yang perlu diingat adalah ketiba-tibaan yang kita alami ini hanyalah sebuah pemahaman kecil. Kita masih harus menunggu ketiba-tibaan berikutnya, supaya pemahaman kecil ini dapat bertumbuh dengan baik dan menjadi sebuah pemahaman yang besar dan penuh… Maka biarkanlah ia bersama keterbukaannya menduduki kursi emas di dalam diri kita. Pemahaman kecil… ia sudah lebih dari cukup untuk menguasai dan mengendalikan kepekaan dan keterbukaan kita. Dengan demikian, ia akan memahami juga segala kemungkinan yang terwujud di dalam diri sang topeng penggerak yang ada di sekitarnya, walaupun masih agak kabur. Tetapi coba lihat, sebenarnya kekaburan ini sudah menunjukkan bahwa ia telah memiliki daya penglihatan untuk menjembatani dirinya sendiri menuju sebuah kedewasaan. Sumber daya gerak pemahaman kecil ini sebenarnya berasal dari intuisi kemanusiaan kita yang sedang dalam proses pembebasan di alam bawah sadar. Sedangkan dirinya sendiri sedang berada dalam dunia manusia, di dalam kesadaran. Kondisi alam kesadaran ini sekarang seperti sebuah pasar induk yang mempunyai hubungan dengan pemahaman kecil dan segala keramaian persepsi dan asosiasi dari dunia manusia. Dengan kata lain, pemahaman kecil mempunyai daya-daya kesadaran murni atas apa yang terjadi di alam bawah sadar dan segala topeng penggerak yang masuk ke dalam mental melalui jalur indera kita. Sehingga kita kemudian dapat melacak lebih baik ke mana perginya sang topeng itu di saat matahari terbit sampai terbenam, dan juga setiap hal yang ada di belakang ekspresinya yang mempesona itu. Sekali lagi… topeng-topeng penggerak ini sebenarnya dibuat oleh manusia berdasarkan pengertiannya sendiri terhadap kehidupan. Manusia lebih memakai pikiran untuk membuatnya daripada dirinya yang merupakan bagian dari entitas dunia itu sendiri.

Apakah kita sadar, kadang-kadang pemahaman kecil ini mengandung kebencian terhadap apa yang ditampilkan sang topeng. Ia dapat salah meng-interpretasi dan dapat mengacaukan pikiran kita serta membuat kita bingung. Ia sebenarnya belum cukup bijak untuk memutuskan sesuatu. Tapi selama keterbukaan kita masih berlangsung, pemahaman kecil ini akan berangsur-angsur tumbuh menuju sebuah pemahaman besar. Di mana ia dapat melihat lebih jauh dan dapat menembus kabut-kabut pikiran yang semula membelenggunya. Di matanya topeng-topeng penggerak bukan sesuatu yang jahat dan tercemar lagi untuknya. Sekarang, ia malah menjadi senang berteman dengan semua itu. Ia juga belajar dari sang topeng, agar dirinya lebih cepat lagi membesar daripada yang terdahulu.

Walaupun gerakan-gerakan sang topeng selalu bertentangan dengannya atau bahkan ingin membunuhnya, ia tidak pernah lagi membencinya. Kalaupun ada kebencian di dalam diri pemahaman besar ini terhadap sang topeng, itu hanyalah sebuah kebencian yang kecil, yang tidak akan beranak lagi di kemudian hari. Kebencian ini sudah terikat dan lumpuh serta dikucilkan jauh di dalam kesadaran kita, bahkan sudah lenyap. Pada saat seperti ini, pemahaman besar pada diri sendiri dapat melihat proyeksi kemungkinan-kemungkinan gerak lain dari topeng - topeng mengada manusia tersebut. Gerak-gerak lain ini adalah sesuatu yang tidak hadir di lingkungan konkret ataupun di dalam mental kita. Ia hanya kita rasakan secara samar-samar dan bergerak sedikit liar. Mungkin inilah dimensi lain dari pikiran kita itu. Ia seperti sebuah kekacauan yang terjadi, karena sebentar lagi dirinya akan dikendalikan oleh intuisi kemanusiaan kita yang sesungguhnya. Keterbukaan terhadap kemungkinan-kemungkinan gerak ini, tidaklah berpengaruh terhadap lingkungan konkret dan mental kita. Hanya saja mereka kita sadari. Kehadirannya, dan tentu saja sisi murni dari semua itu juga merupakan bagian dari pemahaman terhadap keseluruhan yang saling berhubungan dalam dunia yang sebenarnya.

Kita kemudian akan melihat, bahwa sang topeng atau ide penggerak manusia itu sendiri sebenarnya tidak mengenal dirinya dengan baik, justru pemahaman besar yang akan mengatakan pada sang topeng bahwa dirinya-lah yang lebih mengenal mereka semua daripada mereka mengenal diri mereka sendiri.

Ya, di sinilah pemahaman besar itu menunjukkan kebijaksanaannya. Ia mampu melihat dengan jelas ke dalam mata sang topeng, ada sebuah pagar ketidaktahuan yang mengurung mereka. Dan untuk mendobrak pagar itu tidaklah mudah, karena mereka tahu benar bahwa pagar tersebut adalah benteng mereka untuk bertahan hidup di dunia manusia. Siapa yang memiliki pagar yang paling kokoh, ia-lah yang paling hidup dan berjaya. Sebuah semboyan yang penuh keegoisan.

Bagi pemahaman besar, segala keegoisan ini adalah wujud ketidaktahuan. Pemahaman besar ini juga telah mampu untuk meng-interpretasikan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Ada semacam keseragaman atau kesamaan yang bergerak secara murni oleh intuisi kemanusiaan dalam setiap hal yang terkait secara menyeluruh dalam dunia manusia. Dan ini-lah yang menjiwai setiap mengada manusia di muka bumi ini. Ketika pemahaman besar mulai mengental dan perjalanan sebuah renungan dapat dilalui dengan sebuah loncatan mungil, kita akan memasuki medan penglihatan.



Penglihatan…

http://margaluyu151-gresik.blogspot.com/2010/01/penglihatan.html
Sumber : http://katharsis-completejourney.blogspot.com/
Label : Perjalanan

1 komentar:

Download Ebook Gratis mengatakan...

thanks bro for this share :)

NEPTU